Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, November 17, 2017

Perlu diperhatikan... Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak




Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan? Maka jawaban Anda pasti…tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih "Harimau yang memakan anaknya sendiri" atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya.
Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya. Berikut ini beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda.
  1. Kurang Pengawasan
    Menurut Professor Robert Billingham, Human development and Family Studies -Universitas Indiana, “ Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya- misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.
  2.  Gagal mendengarkan
    Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “ Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.
  3. Jarang bertemu muka
    Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarakan anak bahkan belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.
  4. Terlalu berlebihan
    Menurut Judy Haire, “ banyak orang tua menghabiskan 100 km perjam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama sanak mereka “ . Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.
  5. Bertengkar dihadapan anak
    Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah "bertengkar" dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki , maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
  6. Tidak consisten
    Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
  7. Mengabaikan kata hati
    Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak,” lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam, tentang sesuatu.
  8. Terlalu banyak nonton TV
    Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganngu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.
  9. Segalanya diukur dengan materi
    Menurut Louis Hodgson , ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “ anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.
  10. Bersikap berat sebelah
    Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

Tuesday, August 15, 2017

Konsep Mutu dan Manajemen Mutu Pendidikan



Pengertian Konsep Mutu Pendidikan
Membicarakan tentang pengertian mutu dapat berbeda bagi setiap orang, karena mutu memiliki banyak kriteria dan sangat tergantung pada konteksnya. Secara leksikal alam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda, keadaan, taraf, atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya). Menurut Joseph Juran mutu diartikan sebagai kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan atau kualitas sebagai kesesuaian terhadap spesifikasi. Sementara menurut W. Edwards Deming menyatakan bahwa mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kemudian mutu pendidikan menurut Permendiknas No 63 tahun 2009 adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan Sistem Pendidikan Nasional.
Meskipun tidak ada definisi mengenai mutu yang diterima secara universal, dari definisi-definisi yang ada terdapat beberapa persamaan. Artinya, dalam mendefinisikan mutu memerlukan pandangan yang komprehensif. Dalam hal ini ada beberapa elemen yang bisa membuat sesuatu dikatakan berkualitas. Pertama, mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Kedua, mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan. Ketiga, mutu merupakan kondisi yang selalu berubah, artinya apa yang dianggap bermutu saat ini mungkin dianggap kurang bermutu pada saat yang lain. Keempat, kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melibihi harapan.
Jadi mutu pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara fektif dan efisien untuk melahirkan keunggulan akademis dan kestrakulikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidiakn atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.
Setelah memahami definisi mutu, maka harus diketahui pula apa saja yang termasuk dalam dimensi mutu. Garvin mendefinisikan delapan dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisi karakteristik kualitas produk, yaitu sebagai berikut.
1.    Kinerja atau performa (performance)
2.    Features, ciri-ciri atau keistimewaan dan karakteristik pelengkap
3.    Keandalan (reability)
4.    Konformitas (conformance)
5.    Daya tahan (durability)
6.    Kemampuan pelayanan (sevice ability)
7.    Estetika (aesthethic)
8.    Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality).
Adapun indikator atau kriteria yang dapat dijadikan tolak ukur mutu pendidikan yaitu hasil akhir pendidikan, hasil langsung pendidikan (hasil langsung inilah yang dipakai sebagai titik tolok pengukuran mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan, misal tes tertulis, daftar cek, anekdot, skala rating, dan skala sikap), proses pendidikan, instrumen input (alat berinteraksi dengan raw input, yakni siswa), serta raw input dan lingkungan.
Siapa yang seharusnya memutuskan apakah sebuah sekolah berhasil memberikan sebuah layanan yang memiliki mutu? Pelanggan adalah wasit terhadap mutu dan institusi sendiri tidak akan mampu bertahan tanpa mereka. Mutu dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan. Definisi ini disebut juga dengan istilah mutu sebagai persepsi (quality in perception). Mutu ini bisa disebut sebagai mutu yang hanya ada di mata orang yang melihatnya. Ini merupakn definisi yang sangat penting. Sebab, ada satu resiko yang seringkali diabaikan dari definisi ini, yaitu kenyataan bahwa para pelanggan adalah pihak yang membuat keputusan terhadap mutu. Dan mereka melakukan penilaian tersebut dengan merujuk pada produk terbaik yang bisa bertahan dalam persaingan.
Standar-standar mutu yaitu:
1.    Standar Produk dan Jasa
a.         Kesesuaian dengan spesifikasi.
b.         Kesesuaian dengan tujuan dan manfaat.
c.         Tanpa cacat (zero defects).
d.        Selalu baik sejak awal.
2.    Standar Pelanggan
a.       Kepuasan pelanggan.
b.      Memenuhi kebutuhan pelanggan.
Menyenangkan pelanggan.
  
     Manajemen Mutu dalam Pendidikan
Edwars Sailis mengatakan bahwa TQM dalam pendidikan adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus-menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggan, saat ini dan untuk masa yang akan datang.Menurut Hadari Nawawi, TQM adalah manajemen funsional dengan pendekatan yang secara terus menerus difokuskan pada peningkatan kualitas agar produknya sesuai dengan standar kualitas agar produknya sesuai dengan standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat (community development).Sedangkan menurut Sugeng Pinando manajemen mutu terpadu merupakan aktivitas yang berusaha untuk mengoptimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan yang terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya.
Manajemen mutu terpadu (Total Quality Management) merupakan suatu sistem nilai yang mendasar dan komprehensif dalam mengelola organisasi dengan tujuan meningkatkan kinerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang dengan memberikan perhatian secara khusus pada tercapainya kepuasan pelanggan dengan tetap memperhatikan secara memadai terhadap terpenuhinya kebutuhan seluruh stakeholder organisasi yang bersangkutan. Masalah kualitas dalam TQM menuntut adanya keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak dalam organisasi.
Karena itu pendekatan manajemen mutu terpadu tidak hanya bersifat pasrsial, tetapi komprehensif dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan dengan produk yang dihasilkan. masalah kualitas juga tidak lagi dimaknai dan dipandang sebagai masalah teknis, tetapi lebih berorientasi pada terwujudnya kepuasan konsumen atau pelanggan. Manajemen mutu terpadu juga melibatkan faktor fisik dan non-fisik, semisal budaya organisasi, gaya kepemimpinan dan pengikut. Keterpaduan faktor-faktor ini akan mengakibatkan kualitas pelayanan menjadi lebih meningkat dan bermakna.
Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan merupakan upaya untuk mengoptimalkan institusi atau lembaga pendidikan dalam rangka kepuasan pelanggan. Dengan demikian manajemen mutu terpadu dalam pendidikan berkaitan dengan:
a.    Pelanggan, baik internal maupun eksternal.
b.    Kualitas, yang dimaksud adalah kualitas pelayanan baik secara individu maupun kelembagaan terus menerus dilakukan oleh setiap individu dan kelembagaan.
c.    Pengambilan keputusan didasarkan atas keputusan yang bersifat ilmiah.
d.   Adanya komitmen semua komponen dalam oraganisasi.
e.    Adanya kerjasama tim.
f.     Perbaikan dilakukan secara terus-menerus.
g.    Kebebasan dilakukan secara terkendali.
h.    Adanya kesatuan tujuan.
i.      Keterlibatan personil secara keseluruhan.
Menurut Pinando mutu pelayanan pendidikan yang baik adalah, sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau melebihi; dan sapat menyajikan layanan jasa pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggannya baik peserta didik, dunia usaha maupun masyarakat. Dalam manajemen mutu terpadu, sekolah dipahami sebagai unit layanan jasa, yani pelayan pembelajaran. Sebagai unit layanan jasa, maka yang dilayani sekolah adalah pelanggan, baik pelanggan intenal maupun pelanggan eksternal.
Beberapa sumber mutu yang dapat mendukung implementasi TQM secara maksimal dalam pendidikan yaitu sebagai berikut:
1.    Komitmen pucuk pimpinan (kepala sekolah) terhadap kualitas.
2.    Sistem informasi manajemen.
3.    Sumber daya manusia yang potensial
4.    Keterlibatan semua fungsi
5.    Filsafat perbaikan kualitas secara berkesinambunagan.
Manajemen mutu total merupakan suatu metode yang dapat membantu para profesional pendidikan mengatasi lingkungan yang terus berubah. Manajemen total dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk ikatan antara sekolah, dunia bisnis, dan pemerintah. Ikatan tersebut akan memungkinakan para profesional pendidikan di sekolah atau daerah dilengkapi dengan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam pengembangan program mutu.
Manajemen mutu total merupakan aspek utama dari manajemen total. Manajemen mutu total merupakan metodologi yang mempermudah mengelola perubahan, membentuk fokus perubahan, membentuk infrastruktur yan lebih fleksibel, cepat merespon pada tuntutan perubahan masyarakat, serta membantu pendidikan dalam mengatasi hambatan-hambatan biaya dan waktu.
Perubahan terhadap manajemen mutu total dimulai dengan mengadopsi pembagian tugas tentang pelaksanaan mutu pada tingkat majelis sekolah, administrator, gutu, staf administrasi, siswa, orang tua, dan masyarakat. kegiatan diawali dengan merumuskan visi dan misi dari sekolah, jurusan atau program studi, dan seksi-seksi pendidikan sekolah. Visi manajemen mutu total dipusatkan pada menemukan kebutuhan para penggunaan lulusan (customer), persiapan melibatkan masyarakat secara menyelurh dalam program peningkatan mutu, mengembangkan sistem untuk mengukur nilai tambah dari pendidikan, sistem dukungan yang memungkinkan guru, staf administrasi dalam mengelola perubahan, dan melakukan penyempurnaan yang berkelanjutan dengan tujuan agar produk sekolah menuju arah yang lebih baik.
Jeroma S. Arcaro membuat model visual dari sekolah yang menerapkan mutu total. Sekolah yang menerapkan mutu total ditopang oleh lima pilar, yaitu berfokus pada pengguna, keterlibatan secara total semua anggota, melakukan pengukuran, komitmen pada perubahan, serta penyempurnaan secara ters-menerus. Pilar-pilar tersebut dibangun di atas keyakinan dan nilai-nilai yang, menjadi pegangan pendidikan.
Bagi organisasi pendidikan adaptasi manajemen mutu terpadu dapat dikatakan sukses jika menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
1.    Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus menerus.
2.    Kekeliuran dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
3.    Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat.
4.    Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali, dan tidak berkuran atau hilang tanpa diketahui sebabnya.
5.    Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
Peningkatan keterampilan dan keahlian bekerja terus dialaksanakan, sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif. Karenanya, kualitas produk dan pelayanan terus meningkat.
Daftar Pustaka
Edward Sailis, Total Quality Management in Education, penerjemah: Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Manajemen Mutu Terpadu, hlm. 73.
Sudiyono, Manajemen Pendidikan Tinggi. Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Nana Syaodih Sukmadinata, dkk., Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah (Konsep, Prinsip dan Instrumen). Bandung: Refika Aditama, 2006.
M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000.
Dedi Mulyanasa, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan.Yogyakarta: IRCiSoD, 2011.
Nur Hasan, Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia, Kurikulum untuk Abad 21; Indikator Cara Pengukuran dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu Pendidikan.Jakarta: Sindo, 1994.
 Terimakasih,...
SEMOGA BERMANFAAT...
 

Monday, May 1, 2017

PENGERTIAN PENDIDIKAN








Pengertian pendidikan menurut Undang Undang SISDIKNAS no. 20 tahun 2003, adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sedemikian rupa supaya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif supaya memiliki pengendalian diri, kecerdasan, keterampilan dalam bermasyarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian serta akhlak mulia. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pendidikan berasal dari kata “didik” dan mendapat imbuhan berupa awalan ‘pe’ dan akhiran ’an’ yang berarti proses atau cara perbuatan mendidik. Maka definisi pendidikan menurut bahasa yakni perubahan tata laku dan sikap seseorang atau sekelokmpok orang dalam usahanya mendewasakan manusia lewat pelatihan dan pengajaran.
Menurut Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, pengertian pendidikan yaitu tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak yang bermaksud menuntun segala kekuatan kodrati pada anak-anak itu supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mampu menggapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Berikut beberapa pengertian Pendidikan menurut ahli-ahli lainnya:
  • Gunning dan Kohnstamm
Pendidikan adalah proses pembentukan hati nurani. Sebuah pembentukan dan penentuan diri secara etis yang sesuai dengan hati nurani
  • Carter. V. Good
Proses perkembangan kecakapan individu dalam sikap dan perilaku bermasyarakat. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh suatu lingkungan yang terorganisir, seperti rumah atau sekolah, sehingga dapat mencapai perkembangan diri dan kecakapan sosial
  • John Dewey
Pendidikan sinergis dengan pertumbuhan dan tidak memiliki akhir selain dirinya sendiri
  • Theodore Brameld
Pendidikan memiliki fungsi yang luas yaitu sebagai pengayom dan pengubah kehidupan suatu masyarakat jadi lebih baik dan membimbing masyarakat yang baru supaya mengenal tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah sebuah proses yang lebih luas dari sekedar periode pendidikan di sekolah. Pendidikan adalah sebuah proses belajar terus menerus dalam keseluruhan aktifitas sosial sehingga manusia tetap ada dan berkembang.
  • H.H. Horne
Dalam spektrum yang luas, pendidikan adalah alat dimana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya dalam mempengaruhi diri sendiri serta menjaga idealismenya
  • Stella van Petten Henderson
Pengertian pendidikan adalah kombinasi pertumbuhan, perkembangan diri dan warisan sosial
  • Martinus Jan Langeveld
Pendidikan adalah upaya menolong anak untuk dapat melakukan tugas hidupnya secara mandiri supaya dapat bertanggung jawab secara susila. Pendidikan merupakan usaha manusia dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa menuju kedewasaan.

Tuesday, February 21, 2017

MASYARAKAT MADANI





 MASYARAKAT MADANI
Dato Anwar Ibrahim (mantan wakil perdana menteri malaysia) yang pertama kali memperkenalkan istilah masyarakat madani sebagai istilah lain civil society, yaitu sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Inisiatif dari individu dan masyarakat akan berupa pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintah yang berdasarkan undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu.
Azyumardi Azra, bahwa masyarakat madani lebih dari sekedar gerakan pro-demokrasi, jarena ia juga mengacu pada pembentukan masyarakat berkualitas dan bertamadun (civility). Dari pandangan diatas Nurcholis Madjid menegaskan bahwa masyarakat madani berakar dari kata “civility” yang mengandung makna toleransi, kesediaan pribadi-pribadi untuk menerima berbagai macam pandangan politik dan tingkah lakunsosial.
Serta beberapa definisi masyarakat madani menurut:
a.       Salvador Giner
Masyarakat madani adalah kondisi yang secara historis dikembangkan dari hak-hak individu, kebebasan dan perserikatan secara suka rela dimana komposisi satu dengan yang lain secara politis tidak terganggu dalam rangka memperoleh perhatian, kepentingan, pilihan, dan tujuan pribadinya secara berurutan (itu semua) tela dijamin oleh lembaga publik yang disebut dengan negara.
b.      John Hall
Masyarakat madani adalah bentuk khusus masyarakat yang menghargai perbedaan sosial dan mampu membatasi pembinaaan kekuatan politik.
c.       Mohammad A.S Hikam
Civil soiety merupakan wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan antara lain: kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self supporting), kemandirian tinggi berhadapan dengan negara, dan keterkaitan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. Civil society mewujud dalam berbagai orgaisasi yang dibuat masyarakat diluar pengaruh negara.
Berdasarkan uraian diatas menujukan civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan , yang mempunyai ciri-ciri:
·         Lahir secara mandiri, warga masyarakat sendiri membentuk nya, bukan enguasa negara.
·         Keanggotaannya bersifat suka rela, atau atas dasar kesadaran masing-masing anggota.
·         Mencukupi kebutuhannya (swadaya), paling tidak untuk sebagian, sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/ negara.
·         Bebas dan mandiri dan kekuasaan negara, sehingga berani mengontrol penggunaan penguasaan negara.
Tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/ norma yang diyakini bersama.


1.      KARATERISTIK MASYARAKAT MADANI
Menyebutkan karateristik masyarakat madani dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dalam merealisasikannya diperlukan prasyarakat-syarat yang menjadi nilai universal dalam penegakan masyarakat madani
a.      Free Public Sphere
Adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat. Mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasi kepada publik.
Oleh Arendt dan Haberbas dikatakan lebih lanjut bahwa ruang publik secara teoritis bisa diartikan sebagai wilayah dimana masyarakat sebagai warga negara memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik.
b.      Demokratis
Satu entitas yang menjadi penegak wacana masyarakat madani dimana dalam menjalani kehidupan, warga negara memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktifitas kesehaiannya, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
c.       Toleransi
Kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktifitas yang dilakukan oleh orang atau kelompok lain.
d.      Pluralisme
Ia tidak bisa dipahami hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus untuk mnerima kenyataan pluralisme itu sebagai bernilai positif, merupakan rahmat Tuhan.
e.       Keadilan Sosial (Sosial Justice)
Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
f.       Partisipasi Sosial
Partipartisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, itimdiasi, ataupun interensi penguasa/pihak lain, sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandiriaan berpolitik yang bertanggung jawab.
g.      Supremasi Hukum
Upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, atinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.